Rabu, 20 Februari 2013

The Prince Playboy Chapter 8


Chapter Eight
Philippe melihat suluran rambut pirang Ella dari sanggulnya saat ia membungkuk mengambil salah satu manuskrip di perpustakaan Morgan, dan Philippe merasa seberkas api keinginan menembus tubuhnya. Ella begitu cantik, begitu menyegarkan, jujur dan terbuka, abu hijau matanya tak menyembunyikan apapun. Ella juga sangat curiga terhadap reputasi playboynya, tapi Philippe pikir Ella mulai mencair, meski sedikit.
Satu hari, Philippe berkata pada dirinya sendiri. Satu hari untuk menikmati dirinya sendiri, untuk menjadi pria biasa. Bukan playboy sembrono yang menjual dan bertanggung jawab untuk membawa pariwisata ke Negara.
Ella mendongak, matanya melebar.
“Apa yang salah?”
“Salah? Tidak ada yang salah.”
“Anda mendesah.”
“Aku?” Philippe kagum bagaimana Ella menyesuaikan diri padanya, dan dia kepadanya, sejak awal. “Aku hanya melihat ini, komposisi Mozart.”
“Menakjubkan bukan?” Ella bergerak mendekati Philippe di kaca display lain. “Saya suka tempat ini.”
“Kau?” Philippe tidak terkejut, hanya senang.
Ella mengangguk. “Saya suka merasakan seperti saya menjadi bagian dari sejarah yang begitu banyak.”
“Aku tahu apa maksudmu.” Itu menjelaskan bagaimana perasaannya tentang negaranya sendiri, bagian dari alasan dia tidak memprotes keputusan kakaknya. Ketika kau menyadari bahwa kau adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari dirimu, itu membuat segala kepentingan pribadi tampak kecil.
“Dan ruangan ini…” Ella melirik ke langit-langit, gantungan berkubah. “Seolah-olah aku melangkah kedunia lain. Tapi saya kira anda terbiasa dengan tempat-tempat seperti ini.”
“Aku kira itu mungkin, jika aku dibesarkan di istana.”
Ella menaikkan alisnya. “Kau?”
“Aku dibesarkan di rumah kami di pegunungan, rumah yang sangat bagus, tapi tidak megah. Istana Montvidant digunakan untuk upacara Negara dan perayaan lain.”
Ella menatapnya, “Dan dimana anda tinggal sekarang?” tanyanya saat mereka bergerak kearah lain etalase.
“Aku memiliki sebuah flat di ibukota Montvidant, Amarne.”
“Tapi ketika anda menjadi raja, anda akan tinggal di istana itu kan?”
Philippe mengangkat bahu. “Ibuku menghabiskan sebagian besar waktunya dirumah kami, tapi dia akan berada di istana ketika dia datang ke Amarne untuk urusan Negara. Jadi ya, aku akan tinggal di istana pada beberapa kesempatan.”
“Apakah kau melihat masa depan untuk itu?” Tanya Ella, dan sebelum Philippe mengecam dirinya, Philippe menjawab jujur.
“Tidak benar-benar.”
Ella memiringkan kepalanya, matanya gelap dengan simpati. “Mengapa tidak?”
“Karena aku tidak pernah ingin menjadi raja, tapi aku menerima tugasku.” Philippe tersenyum, tahu ia mengatakan terlalu banyak dan meringankan saat ini. “Apakah sudah cukup? Karena aku ingin mengajakmu makan siang.”
“Um..tentu.” kata Ella, suaranya agak terengah-engah, dan Philippe meraih tangannya, menggenggam jemarinya. Philippe merasakan tarikan jauh didalam dirinya, dikulit lembutnya dan dia melihat Ella menatapnya terkejut. Pertanyaannya, mereka akan melakukan apa untuk hal itu?
Philippe tahu apa yang dimaksudkan untuk menjadi jawaban.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar