Chapter Six
Ella menatap, tidak mengatakan
apa-apa. Apakah kau ingin menghabiskan
lebih banyak waktu denganku? Itu seperti pertanyaan yang jujur, dan
Philippe mengatakannya dengan tulus. Ini mengacaukan Ella, membuatnya ingin
menjawab dengan kejujuran yang sama. Ella tertarik dengan pria ini. Penasaran
dan tertarik.
Tapi Ella tidak bisa menjawab
pertanyaan itu dengan jujur. Dia tidak menjawab sama sekali, karena ini sudah
terlalu berbahaya. Ella tidak menggoda, atau memiliki kencan. Ella bekerja.
Ella berdeham. “Saya pikir kita
harus menjaga profesionalitas.”
Philippe tersenyum samar. “Apa
yang tidak professional tentang kau menunjukkan sekitar kota kepadaku?”
Sekarang Ella tersipu, apakah dia
salah paham sepenuhnya? “Maksudku, Mr. Bryant akan bertemu dengan anda..”
“Meski begitu, aku yakin akan ada
waktu untuk melihat-lihat kota.”
“well, ya – “
“Dan aku ingin melihatnya
denganmu. Bukankah kau seharusnya membuatku senang?” Mata Philippe bersinar,
dan Ella merasa sia-sia jika marah. Philippe praktis memaksanya, bagaimana Ella
bisa mengatakan tidak. Dia tidak bisa membiarkan Chase turun tangan, tidak
setelah semua kemungkinan yang diberikannya. Dan kebenaran itu mengganggu, Ella
tidak ingin mengatakan tidak.
“Kita lihat saja nanti.” Kata
Ella akhirnya, dan Philippe tersenyum penuh kemenangan. Dia tahu dia menang.
Apakah dia hanya bermain-main
dengannya, Ella bertanya-tanya. Seorang gadis disetiap pelabuhan? Apa lagi yang
bisa dilakukannya?
“Sudah larut.” Philippe berkata,
mengambil serbet dari pangkuannya dan melemparkannya di atas meja. “Biarkan aku
mengantarmu ke bawah dan mencarikanmu taksi.”
“Itu tidak perlu.” Kata Ella
cepat. “saya tinggal cukup dekat untuk berjalan kaki.”
“Kalau begitu aku akan
mengantarmu ke pintu rumahmu.” Kata Philippe, dan Ella hanya terdiam.
Mereka tidak berbicara saat
mereka meninggalkan restoran dan memasuki lift – setelah Philippe telah
membayar tagihan, meskipun fakta bahwa Ella tahu Chase berniat untuk menjadi
tuan rumah. Mereka sampai di lantai tiga puluh lima, ketegangan tiba-tiba
diantara mereka. Ella melirik Philippe, melihat garis keras rahangnya, biru
terang matanya.Rambutnya adalah warna sinar matahari pada pohon oak.
Diluar, udara dingin dan Colombus
Circle telah kosong, kecuali beberapa taksi yang melaju dalam kabut kuning.
Philippe berpaling pada Ella sambil tersenyum.
“Lewat mana?”
“Ke Utara.” Mereka mulai berjalan
menyusuri Broadway. “Tidakkah anda perlu pengamanan?” Tanya Ella. “Saya tak
pernah terpikir keluarga kerajaan bisa berjalan-jalan tanpa pengawal
disekitarnya.”
“Ini adalah resiko yang ingin
kuambil sesekali.” Kata Philippe sambil mengangkat bahu. “Sebelum kakakku turun
tahta, aku berkeliling sesukaku, sulit meninggalkan hal itu..”
“Saya mengerti.” Gumam Ella. Dia
mengira sang pangeran dimanjakan, dia menggunakan haknya untuk bermalas-malasan.
Sekarang Ella bertanya-tanya. Mereka berjalan dalam diam selama beberapa menit
dan kemudian Ella berhenti didepan rumahnya. “Ini dia.” Ella berbalik kearah
Philippe dengan senyum canggung, hatinya berdebar meskipun ia menolak untuk
bertanya-tanya kenapa.
Philippe tersenyum dan mengangkat
tangannya. Ella menahan napas.Philippe mengusap rambutnya yang keluar dari
sanggulnya dengan jarinya. Napas Ella tertahan. “Philippe – “
“Butiran salju.” Kata Philippe
tersenyum, dia menunjuk ke atas. “Turun salju.”
Ella merasa pipinya panas, dia
pikir Philippe akan menciumnya. Dan dia tidak akan menolak.
Philippe menjatuhkan tanganya.
“Selamat malam, Ella.” Katanya dan berjalan menjauh kedalam kegelapan malam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar