Jumat, 22 Februari 2013

The Playboy Prince Chapter 10


Chapter Ten
Itu adalah kencan. Bagaimana bisa Ella menyangkalnya, ketika Philippe memegang tangannya saat mereka berjalan menuju Rockefeller Plaza, ketika ia menuangkan anggur saat makan siang dan bertanya apakah dia punya pacar. Tentu saja itu adalah kencan. Sebuah kencan yang indah, kencan yang membuat jantungnya berdebar keras dan mulutnya mengering dan harapan yang tidak diketahui namanya mengalir dalam dirinya. Namun….
Ini tidak akan mengarah kemana pun. Ini hanya satu hari. Satu kencan. Dan besok Chase akan kembali dan Philippe akan kembali pada bisnisnya, dan kemudian tidak pernah, tidak akan pernah melihatnya lagi.
Yang mana yang baik, kata Ella pada dirinya sendiri dengan cepat, karena tidak peduli bagaimana menariknya Philippe sekarang, bahwa tabloid tidak banyak berbohong. Foto-foto itu terlihat benar-benar nyata. Dengan wanita yang berbeda di lengan pada kesempatan yang berbeda, sering mengunjungi kasino dan klub dari kota-kota Eropa yang paling glamour. Tidak seperti kebanyakan pria yang Ella kenal.
“Kenapa kau cemberut begitu?” Philippe bertanya. Ella mendengar tawa dalam suaranya saat ia berpaling pada Philippe, Ella mengerutkan keningnya.
“Aku? Tidak.”
“Ya, kau.” Philippe menyentuh keningnya. “Dan kau memiliki sedikit kerut dikening, tanda khawatir.”
“Saya hanya berpikir.” Ella berkata, dan Philippe menggelengkan kepalanya.
“Lebih baik kau hentikan. Berpikir itu berbahaya, setidaknya untuk saat ini. Mari kita menikmati diri kita sendiri Ella.”
Ella mengangguk pelan, menyadari bahwa Philippe sedang menyiapkan aturan-aturan. Hari ini untuk dinikmati. Tentu saja Philippe tidak menginginkan yang lain dari dirinya. Jadi mengapa dia harus khawatir. “Oke.” Kata Ella dan Philippe meremas tangannya.
Beberapa menit kemudia mereka berdua sudah diatas es. Ella belum pernah bermain ice skating, jadi dia goyah sampai Philippe meluncurkan lengannya dipinggang Ella. Ella merasakan kehangatannya yang kuat dan dukungan dari lengan Philippe yang panjang membuat meluncur menjadi mudah.
“Anda meluncur seperti telah melakukan ini selamanya.” Kata Ella. Philippe menyeringai.
“Ingatlah, bahwa aku dibesarkan dirumah pegunungan.”
“ya –“
“sebuah danau.”
“Ah.”
“Kau sendiri tidak buruk.” Kata Philippe, dan sebelum Ella menjawab, dia berputar dan menjerit kecil.
“Philippe –“
“Aku pikir ini mungkin ini pertama kalinya kau memanggil namaku.”
“Saya tidak berpikir.” Ella mengakuinya.
Philippe tertawa lembut, menarik Ella kepadanya sehingga Ella harus memiringkan kembali kepalanya untuk menatap wajahnya yang tersenyum. “Sekarang kau mempunyai ide.”
“Apakah benar-benar begitu buruk?” Tanya Ella, dan sesak mendengar suaranya sendiri.
“kadang-kadang.”
“Seperti kapan?” Bibir Ella terbuka saat ia menunggu jawabannya. Philippe mengulurkan tangan dan menyentuh dagunya dengan jarinya.
“seperti sekarang.” Kata Philippe, dan mencium Ella.

Kamis, 21 Februari 2013

The Playboy Prince Chapter 9


Chapter Nine
Ella sangat menikmati waktunya. Setelah mengunjungi perpustakaan, Philippe membawanya kesebuah restoran yang elegan dan sangat eksklusif di Madison Avenue.
Ella tidak menolak ketika Philippe menuangkan anggur mereka dari botol yang sangat mahal, meskipun hari baru beranjak lewat tengah hari. Ella berdebar hatinya ketika Philippe bersandar dikursinya, matanya berkilat dan berkata. “ Jadi ceritakan tentang dirimu, Ella.”
Ella meneguk anggurnya, “Tidak banyak yang bisa diceritakan.”
“Selalu ada sesuatu.”
“Apa yang ingin ada ketahui?” Tanya Ella, dengan nada provokatif dalam suaranya. Dari tatapan Philippe, Ella tahu dia mendengarnya juga.
“Dimana kau dibesarkan?”
“Connecticut.”
“Berapa umurmu?”
“Dua puluh delapan.”
“Pacar?”
Ella ragu-ragu sebentar, hatinya mulai berdebar kencang. “Tidak.”
Philippe tersenyum samar-samar dan meneguk anggurnya. “Mengapa kau hanya menyelesaikan satu tahun di universitas?”
Ella hampir tersedak, terkejut dengan perubahan yang tiba-tiba dalam pertanyannya. “Ibu saya jatuh sakit.” Katanya setelah beberapa saat. “Dan ayah sudah tidak ada, jadi saya meninggalkan sekolah untuk merawatnya.”
Ella melihat bayangan dimata Philippe, dan Ella tahu dia bersimpati. “Maafkan aku.” Kata Philippe. Ella hanya mengangguk, tenggorokannya tercekat.
“Bagaimana dengan anda, Pangeran Philippe? Kenapa anda tidak pernah ingin menjadi raja?”
Philippe mengangkat bahu. “Aku kira karena aku tidak pernah terpikir aku akan menjadi raja.”
“Apa yang akan anda lakukan sebagai gantinya?”
“Mengajar sejarah di Sorbonne.” Untuk sesaat Ella pikir dia sedang bercanda, mulutnya tersenyum jahil dan dia berkata, “Surprise lagi.”
“Anda seorang akademisi?” Tanya Ella
Philippe mengangkat bahu. “Tidak lagi.”
“Apakah anda menyesal?”
Philippe tidak menjawab selama beberapa saat, hanya menenggak anggur di dalam gelasnya. “Aku tidak melihat tujuan untuk menyesal.” Katanya akhirnya “Apalah hidup itu.”
“Ya, tapi –“
“Ayo.” Philippe melemparkan serbet keatas meja sambil tersenyum. “Apakah kau sudah selesai, karena aku ingin bermain skating di Rockefeller Plaza.”
“Skating-“
“Apakah kau bisa bermain skate?”
“Sedikit –“
Philippe mengulurkan tangannya. “kalau begitu, mari kita pergi. Saatnya babak kedua dalam kencan kita.”
Ella merasa tersentak, “Ini bukan kencan!”
Senyum Philippe berubah menjadi seringai tajam ketika ia menariknya dari meja. “Oh ya.”

Rabu, 20 Februari 2013

The Prince Playboy Chapter 8


Chapter Eight
Philippe melihat suluran rambut pirang Ella dari sanggulnya saat ia membungkuk mengambil salah satu manuskrip di perpustakaan Morgan, dan Philippe merasa seberkas api keinginan menembus tubuhnya. Ella begitu cantik, begitu menyegarkan, jujur dan terbuka, abu hijau matanya tak menyembunyikan apapun. Ella juga sangat curiga terhadap reputasi playboynya, tapi Philippe pikir Ella mulai mencair, meski sedikit.
Satu hari, Philippe berkata pada dirinya sendiri. Satu hari untuk menikmati dirinya sendiri, untuk menjadi pria biasa. Bukan playboy sembrono yang menjual dan bertanggung jawab untuk membawa pariwisata ke Negara.
Ella mendongak, matanya melebar.
“Apa yang salah?”
“Salah? Tidak ada yang salah.”
“Anda mendesah.”
“Aku?” Philippe kagum bagaimana Ella menyesuaikan diri padanya, dan dia kepadanya, sejak awal. “Aku hanya melihat ini, komposisi Mozart.”
“Menakjubkan bukan?” Ella bergerak mendekati Philippe di kaca display lain. “Saya suka tempat ini.”
“Kau?” Philippe tidak terkejut, hanya senang.
Ella mengangguk. “Saya suka merasakan seperti saya menjadi bagian dari sejarah yang begitu banyak.”
“Aku tahu apa maksudmu.” Itu menjelaskan bagaimana perasaannya tentang negaranya sendiri, bagian dari alasan dia tidak memprotes keputusan kakaknya. Ketika kau menyadari bahwa kau adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari dirimu, itu membuat segala kepentingan pribadi tampak kecil.
“Dan ruangan ini…” Ella melirik ke langit-langit, gantungan berkubah. “Seolah-olah aku melangkah kedunia lain. Tapi saya kira anda terbiasa dengan tempat-tempat seperti ini.”
“Aku kira itu mungkin, jika aku dibesarkan di istana.”
Ella menaikkan alisnya. “Kau?”
“Aku dibesarkan di rumah kami di pegunungan, rumah yang sangat bagus, tapi tidak megah. Istana Montvidant digunakan untuk upacara Negara dan perayaan lain.”
Ella menatapnya, “Dan dimana anda tinggal sekarang?” tanyanya saat mereka bergerak kearah lain etalase.
“Aku memiliki sebuah flat di ibukota Montvidant, Amarne.”
“Tapi ketika anda menjadi raja, anda akan tinggal di istana itu kan?”
Philippe mengangkat bahu. “Ibuku menghabiskan sebagian besar waktunya dirumah kami, tapi dia akan berada di istana ketika dia datang ke Amarne untuk urusan Negara. Jadi ya, aku akan tinggal di istana pada beberapa kesempatan.”
“Apakah kau melihat masa depan untuk itu?” Tanya Ella, dan sebelum Philippe mengecam dirinya, Philippe menjawab jujur.
“Tidak benar-benar.”
Ella memiringkan kepalanya, matanya gelap dengan simpati. “Mengapa tidak?”
“Karena aku tidak pernah ingin menjadi raja, tapi aku menerima tugasku.” Philippe tersenyum, tahu ia mengatakan terlalu banyak dan meringankan saat ini. “Apakah sudah cukup? Karena aku ingin mengajakmu makan siang.”
“Um..tentu.” kata Ella, suaranya agak terengah-engah, dan Philippe meraih tangannya, menggenggam jemarinya. Philippe merasakan tarikan jauh didalam dirinya, dikulit lembutnya dan dia melihat Ella menatapnya terkejut. Pertanyaannya, mereka akan melakukan apa untuk hal itu?
Philippe tahu apa yang dimaksudkan untuk menjadi jawaban.

Selasa, 19 Februari 2013

The Playboy Prince Chapter 7


Chapter Seven
Ella menatap tak percaya pesan teks dari Chase. Tolong temani sang pangeran. Menjemput di bandara adalah satu hal, makan malam. Dan sekarang menghabiskan sepanjang hari dengan Pangeran Philippe.
Terlalu menarik.
Dengan meringis Ella melemparkan ponselnya ke tempat tidur dan menyelesaikan riasannya. Dia bingung apa yang akan dikenakannya, ingin tampak professional tanpa terlalu kaku. Pada akhirnya ia memilih rok selutut warna hitam, sepatu yang cocok dan sweater turtleneck lembut berwarna krem kasmir. Ella menyanggul rapi rambutnya, dan meraih mantel wol, menjemput Philippe di hotelnya.
Philippe sedang menunggunya di lobi ketika ia tiba, duduk disalah satu sofa kulit dan membaca koran. Segera setelah Ella datang, Philippe bangkit, melemparkan koran ke samping dan tersenyum.
“Ella.”
“Saya khawatir Mr. Bryant masih belum bisa menemui anda pagi ini.” Kata Ella kaku. “Jadi jika anda ingin, kita bisa pergi langsung ke perpustakaan.”
“Kedengarannya sempurna.” Senyum Philippe saat ia mengambil lengan Ella dan membimbingnya keluar hotel, Ella terlalu terkejut untuk melawan. “Aku belum pernah sangat senang tidak dipedulikan.”
“Mr. Bryant bukannya tidak mempedulikan anda.” Protes Ella, meskipun tampaknya seperti itu yang dilakukan Chase.
Philippe mengangkat satu tangannya. “Tenang Ella, aku hanya bercanda, aku yakin apa pun itu pasti sangat penting buat Chase Bryant. Aku senang menghabiskan hari denganmu.”
Ella menggelengkan kepalanya, terlalu bingung untuk menyembunyikan. “Kenapa?” bisiknya.
“Mengapa tidak?”
Ella menekan bibirnya menjadi garis tipis, tentu saja Philippe akan menjawab seperti itu. Seorang wanita sama baiknya dengan yang lain –
“Hentikan.” Kata Philippe lembut, dan Ella menatapnya.
“Hentikan apa?”
“Berhentilah berpikir aku adalah playboy seperti yang diberitakan tabloid dan majalah gossip.”
“Tapi bukan kah anda memang seperti itu.” Jawab Ella cukup beralasan.
“Kenapa kau tidak mencoba untuk mengenalku, untuk satu hari, lupakan pangeran, tapi pria biasa?” kata Philippe.
Bukan pangeran, tapi pria biasa. Kata-kata itu hampir menyebabkan Ella menggigil. Beranikah dia melakukan hal seperti itu? Hanya untuk satu hari. Kedengarannya menarik.
Sambil tersenyum, Philippe menyelipkan lengan Ella lebih tegas saat mereka menuju ke Broadway. Ella merasakan percikan sepanjang lengannya, dan kemudian jauh didalam perutnya sebagai sentuhan sederhana yang menyebabkan keinginan berkobar dalam dirinya.
Ini bisa sangat berbahaya.

Senin, 18 Februari 2013

The Playboy Prince Chapter 6


Chapter Six
Ella menatap, tidak mengatakan apa-apa. Apakah kau ingin menghabiskan lebih banyak waktu denganku? Itu seperti pertanyaan yang jujur, dan Philippe mengatakannya dengan tulus. Ini mengacaukan Ella, membuatnya ingin menjawab dengan kejujuran yang sama. Ella tertarik dengan pria ini. Penasaran dan tertarik.
Tapi Ella tidak bisa menjawab pertanyaan itu dengan jujur. Dia tidak menjawab sama sekali, karena ini sudah terlalu berbahaya. Ella tidak menggoda, atau memiliki kencan. Ella bekerja.
Ella berdeham. “Saya pikir kita harus menjaga profesionalitas.”
Philippe tersenyum samar. “Apa yang tidak professional tentang kau menunjukkan sekitar kota kepadaku?”
Sekarang Ella tersipu, apakah dia salah paham sepenuhnya? “Maksudku, Mr. Bryant akan bertemu dengan anda..”
“Meski begitu, aku yakin akan ada waktu untuk melihat-lihat kota.”
“well, ya – “
“Dan aku ingin melihatnya denganmu. Bukankah kau seharusnya membuatku senang?” Mata Philippe bersinar, dan Ella merasa sia-sia jika marah. Philippe praktis memaksanya, bagaimana Ella bisa mengatakan tidak. Dia tidak bisa membiarkan Chase turun tangan, tidak setelah semua kemungkinan yang diberikannya. Dan kebenaran itu mengganggu, Ella tidak ingin mengatakan tidak.
“Kita lihat saja nanti.” Kata Ella akhirnya, dan Philippe tersenyum penuh kemenangan. Dia tahu dia menang.
Apakah dia hanya bermain-main dengannya, Ella bertanya-tanya. Seorang gadis disetiap pelabuhan? Apa lagi yang bisa dilakukannya?
“Sudah larut.” Philippe berkata, mengambil serbet dari pangkuannya dan melemparkannya di atas meja. “Biarkan aku mengantarmu ke bawah dan mencarikanmu taksi.”
“Itu tidak perlu.” Kata Ella cepat. “saya tinggal cukup dekat untuk berjalan kaki.”
“Kalau begitu aku akan mengantarmu ke pintu rumahmu.” Kata Philippe, dan Ella hanya terdiam.
Mereka tidak berbicara saat mereka meninggalkan restoran dan memasuki lift – setelah Philippe telah membayar tagihan, meskipun fakta bahwa Ella tahu Chase berniat untuk menjadi tuan rumah. Mereka sampai di lantai tiga puluh lima, ketegangan tiba-tiba diantara mereka. Ella melirik Philippe, melihat garis keras rahangnya, biru terang matanya.Rambutnya adalah warna sinar matahari pada pohon oak.
Diluar, udara dingin dan Colombus Circle telah kosong, kecuali beberapa taksi yang melaju dalam kabut kuning. Philippe berpaling pada Ella sambil tersenyum.
“Lewat mana?”
“Ke Utara.” Mereka mulai berjalan menyusuri Broadway. “Tidakkah anda perlu pengamanan?” Tanya Ella. “Saya tak pernah terpikir keluarga kerajaan bisa berjalan-jalan tanpa pengawal disekitarnya.”
“Ini adalah resiko yang ingin kuambil sesekali.” Kata Philippe sambil mengangkat bahu. “Sebelum kakakku turun tahta, aku berkeliling sesukaku, sulit meninggalkan hal itu..”
“Saya mengerti.” Gumam Ella. Dia mengira sang pangeran dimanjakan, dia menggunakan haknya untuk bermalas-malasan. Sekarang Ella bertanya-tanya. Mereka berjalan dalam diam selama beberapa menit dan kemudian Ella berhenti didepan rumahnya. “Ini dia.” Ella berbalik kearah Philippe dengan senyum canggung, hatinya berdebar meskipun ia menolak untuk bertanya-tanya kenapa.
Philippe tersenyum dan mengangkat tangannya. Ella menahan napas.Philippe mengusap rambutnya yang keluar dari sanggulnya dengan jarinya. Napas Ella tertahan. “Philippe – “
“Butiran salju.” Kata Philippe tersenyum, dia menunjuk ke atas. “Turun salju.”
Ella merasa pipinya panas, dia pikir Philippe akan menciumnya. Dan dia tidak akan menolak.
Philippe menjatuhkan tanganya. “Selamat malam, Ella.” Katanya dan berjalan menjauh kedalam kegelapan malam.