Chapter Two
Philippe melepaskan tangannya
dari Ella dengan senyuman, dan Ella menyadari bahwa dia sudah berdiri dengan
mencengkeram sang pangeran seperti orang tolol. Ella mengangguk kearah pintu
keluar. “Saya punya limusin yang sedang menunggu.”
“Sempurna.”
“Untuk anda Pangeran Philippe.”
Senyum pangeran memperlihatkan
lesung pipinya. “Tentu saja.” Pangeran mengikuti Ella berjalan ke limo, Ella
menatapnya tak berdaya tertarik pada sosoknya yang lembut namun kuat,
terbungkus dalam setelan yang sangat mahal.
“Bagaimana dengan pengawal anda.”
Ella menunjuk pada pengawal yang menunggu dibelakang mereka.
“Mereka bisa mengambil mobil
terpisah.” Kata sang pangeran “Dan tentu saja menjaga image saya.”
Satu hal yang dibenci Ella,
pikirnya sambil naik kedalam limo, seorang pria yang terobsesi dengan image
nya. Namun ada sesuatu yang terdengar agak mencela diri sendiri tentang
pernyataan pangeran itu, hampir seolah-olah dia mengolok-olok dirinya sendiri.
Ella tidak mengerti dan tidak mau mengerti.
Philippe meluncur masuk kedalam limo
duduk disamping Ella, pahanya menyentuh Ella. Sensasinya berkobar lagi.
“Terimakasih.” Gumam Philippe,
matanya berkilat nakal. Ella merona. Apakah Philippe menyadari betapa Ella
terpengaruh olehnya? Atau dia hanya menganggap setiap orang, setiap wanita
disekelilingnya akan terbakar seperti ngengat ke nyala api?
Tidak masalah. Ella tidak akan
membiarkan itu, dia adalah seorang professional. Berdeham lagi, dia berpaling
kepada sang pangeran. “Kami memiliki suite yang telah disediakan untuk anda di
Mandarin, saya akan membawa anda kesana sekarang, kemudian Mr. Bryant akan
bertemu anda untuk makan malam direstoran pukul delapan.”
“Baik, terimakasih.” Philippe
tersenyum lagi, dan Ella menggertakkan giginya. Berhentilah bersikap menawan. “Aku
pernah mendengar restorannya memiliki pemandangan yang indah ke Central Park.”
“Ya..”
“Ini adalah pertama kalinya aku
ke New York, kau tahu.”
Ella tidak mengatakan apa-apa.
Tapi sebenarnya dia kaget. Dia mengira orang seperti pangeran telah mengunjungi
setiap kota besar di dunia.
“Pertama kali ke Amerika Serikat,
sebenarnya.” Kata Philippe, terdengar sinis.
“Saya harap anda menikmati
kunjungan anda.” Jawab Ella, suaranya terdengar kaku. Dia tidak bisa bicara
dengan alami untuk pria ini. Pria ini mengingatkannya akan masa lalunya, satu
kesalahan mengerikan yang pernah Ella buat.
“Aku yakin akan menikmatinya.
Kuharap aku punya waktu untuk berjalan-jalan melihat-lihat pemandangan.”
“Tentu saja.” Meskipun itu akan
menjadi pekerjaan Chase, bukan miliknya, pikir Ella lega. “Apa yang anda harapkan
untuk dikunjungi secara khusus?”
“The Pierpont Morgan Library
sangat menarik bagiku.”
“Itu?” Ella terkejut. Tidak
seperti apa yang diharapkan dari seorang pangeran playboy.
Alis Philippe melengkung ke atas “Terkejut?”
“Sedikit.” Ella mengakuinya. “Itu
bukan tempat biasa yang masuk top ten tempat utama wisata.”
“Kamu pernah kesana?”
“Y-Ya.” Ella menjwab enggan.
Perpustakaan adalah salah satu tempat favoritnya. Dia pergi kesana ketika dia
membutuhkan tempat perlindungan.
“Mungkin kau bisa menunjukkan
kepadaku.” Saran Philippe, dan Ella tidak mendengar ada godaan apapun dalam
suaranya, jadi dia hanya mengangguk kearah jendela.
“Lalu lintas tidak terlalu buruk.”
Tak satu pun dari mereka
berbicara lagi selama sisa perjalanan. Sesampainya di Mandarin, Ella keluar
dari limo, telponnya berdering, ada pesan teks yang masuk. Dari Chase. Tidak
bisa memenuhi makan malam. Gantikan aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar