Senin, 09 September 2013

The Playboy Prince Chapter 12


Chapter Twelve
Philippe menyaksikan Ella meluncur agak tak menentu ke pintu keluar dan kemudian menuju kursi  untuk melepaskan sepatunya. Dia tampak benar-benar marah namun juga sedih. Mereka telah mengalami waktu yang indah, bagaimana hal ini begitu cepat berakhir.
Tangannya meleset saat melepas tali-tali sepatu itu, jari-jarinya jelas membeku dan dengan simpati jengkel Philippe berjalan dan duduk disampingnya.
“Biarkan aku membantumu.”
“Tidak perlu-“
“Ella.”
Ella mengangkat bahu dan merentangkan satu kaki, menampakkan wajahnya yang keras kepala. Philippe merasakan ketegangan,  dan dia merasa bahwa ini bukan hanya tentang hari ini, tentang dia, kencan mereka.
“Ella, siapa yang menyakitimu?”
Ella melirik kearahnya, terbelalak dengan shock “Apa?”
“Seseorang menyakitimu bukan? Seorang pria.”
Ella menggeleng pelan, matanya masih melebar, akhirnya ia berbisik “Bagaimana anda mengetahuinya?”
“Dari reaksimu, jadi katakan padaku.”
Ella menunduk “Ini bukan cerita yang menarik.” Katanya pelan
“Ini menarik bagiku.”
“Klasik, aku takut.” Katanya mencoba terdengar ringan dan gagal total. “Ini telah diberitahu berulang kali, sebelum-“
“Tidak bagiku.”
Sambil mendesah, Ella mengankat wajahnya, tersenyum kecil “Anda sangat gigih.”
“Dan kau membeku. Ayo kita beli coklat panas dan kamu bisa melanjutkan ceritanya.” Philippe menarik tangannya. Namun saat Philippe menuju ke arah kafe pinggir arena, ia bertanya-tanya mengapa ia melakukan hal ini pada Ella. Kenapa dia begitu peduli.

Dia mulai hari ini dengan pemahaman bahwa, Dia adalah seorang pangeran, akan menjadi raja, dan ia memiliki tugas kerajaan. Sebuah kehidupan di tempat lain. Ada yang lebih di antara mereka, dan dia tahu dari saat ia bertemu Ella Jamison bahwa dia bukanlah seseorang yang bisa dipermainkan atau disepelekan, tidak seperti wanita lain yang ia kencani. Jadi mengapa dia masih di sini?

Karena dia ingin menjadi. Karena Ella Jamison sangat berbeda dari wanita lain yang pernah ditemuinya, dan dia tidak siap untuk membiarkan dia pergi dulu.

Bahkan jika, semua terlalu cepat, ia harus melakukan hal itu

Jumat, 08 Maret 2013

The Playboy Prince Chapter 11


Chapter Eleven
Bibir Philippe yang hangat dan lembut pada bibirnya. Ella membuka mulutnya saat Philippe memperdalam ciumannya, lidahnya meluncur kedalam mulutnya. Ella gemetar, bukan karena kedinginan, tapi dari keinginan besar yang menyapu, gelombang pasang sensasi. Ella menarik diri dan Philippe tersenyum padanya.
“Kita tidak –“
“Kenapa kita tidak?” Philippe bertanya, terdengar geli. Ella hanya menggelengkan kepala, otaknya overload.
Apa yang dia lakukan? Lupakan satu hari, satu kencan, karena itu  tidak seperti apa yang dia lakukan. Memangnya siapa dia, terutama dengan pria seperti Philippe. Ella menarik diri dan mulai meluncur menuju pintu keluar. Philippe menjebaknya dengan mudah, dia mengambil lengan Ella dan menarik kesampingnya.
“Lepaskan –“
“Ella, ada apa?” Ella menggelengkan kepalanya, dan Philippe mengerutkan dahi. “Itu hanya ciuman.”
“Tepat.”
“Apa maksudmu?”
“Aku tidak –“ Ella merasa konyol. Tidak bisa menjaga dirinya dari hubungan asmara – setidaknya ciuman – dengan seorang pangeran yang bukan kelasnya.
Philippe dengan lembut meletakkan tangannya dibahu Ella, memutar untuk menghadapinya. “Kau tidak apa-apa?”
“Saya tidak – tidak berpikir.” Sembur Ella. “Saya tidak dapat mengalihkan pikiranku, dan bersenang-senang dengan anda, untuk semua itu saya minta maaf. Karena anda menarik dan tampan, dan saya pikir sudah waktunya kita hentikan semuanya.”
Philippe menunduk, menatapnya dengan serius dan Ella balas menatap kembali, merasa konyol menunggu keputusan.
“Kau terlihat cantik ketika bekerja.” Katanya, dan Ella menjauhinya.
“Jangan menggurui aku.”
“Aku tidak –“
“Saya serius, Philippe.”
“Aku juga menikmati saat ini lebih dari hari apapun dalam ingatanku baru-baru ini.”
“Bahkan lebih dari pesta pantai sepanjang malam di Cannes?” bentak Ella.
Philippe membeku. “Kupikir kita akan meninggalkan tabloid dan majalah gossip dari ini.”
“Itu agak sulit, ketika anda begitu sering berada didalamnya.”
“Dan kau percaya dengan semua yang kau baca?”
Ella mengangkat dagu. “Apakah kamu menceritakan cerita-cerita yang tidak benar Philippe, setidaknya sebagian?”
Philippe ragu-ragu, dan Ella melihat jawabannya dari matanya. “Mereka benar.” Kata Philippe berat. “Sebagian, tapi itu bukan berarti aku ingin menjadi seperti itu….”
“Oh pangeran kecil yang malang, yang harus pergi ke pesta sepanjang malam.” Ella mengejeknya, marah dengannya dan dengan dirinya sendiri untuk argumen konyol ini.
“Kau tidak mengerti.”
“Anda benar, dan saya tidak mau….”
Ella seharusnya tidak peduli dengan apa yang dia lakukan, siapalah dia. Tapi sudah terlambat, dia peduli terlalu banyak. Selama bertahun-tahun menjaga hatinya dan hidup untuk bekerja , dan kemudian ini terjadi hanya dalam waktu satu hari.
Ella berbalik dan menuju pintu keluar. “Kencan ini sudah berakhir.”

Jumat, 22 Februari 2013

The Playboy Prince Chapter 10


Chapter Ten
Itu adalah kencan. Bagaimana bisa Ella menyangkalnya, ketika Philippe memegang tangannya saat mereka berjalan menuju Rockefeller Plaza, ketika ia menuangkan anggur saat makan siang dan bertanya apakah dia punya pacar. Tentu saja itu adalah kencan. Sebuah kencan yang indah, kencan yang membuat jantungnya berdebar keras dan mulutnya mengering dan harapan yang tidak diketahui namanya mengalir dalam dirinya. Namun….
Ini tidak akan mengarah kemana pun. Ini hanya satu hari. Satu kencan. Dan besok Chase akan kembali dan Philippe akan kembali pada bisnisnya, dan kemudian tidak pernah, tidak akan pernah melihatnya lagi.
Yang mana yang baik, kata Ella pada dirinya sendiri dengan cepat, karena tidak peduli bagaimana menariknya Philippe sekarang, bahwa tabloid tidak banyak berbohong. Foto-foto itu terlihat benar-benar nyata. Dengan wanita yang berbeda di lengan pada kesempatan yang berbeda, sering mengunjungi kasino dan klub dari kota-kota Eropa yang paling glamour. Tidak seperti kebanyakan pria yang Ella kenal.
“Kenapa kau cemberut begitu?” Philippe bertanya. Ella mendengar tawa dalam suaranya saat ia berpaling pada Philippe, Ella mengerutkan keningnya.
“Aku? Tidak.”
“Ya, kau.” Philippe menyentuh keningnya. “Dan kau memiliki sedikit kerut dikening, tanda khawatir.”
“Saya hanya berpikir.” Ella berkata, dan Philippe menggelengkan kepalanya.
“Lebih baik kau hentikan. Berpikir itu berbahaya, setidaknya untuk saat ini. Mari kita menikmati diri kita sendiri Ella.”
Ella mengangguk pelan, menyadari bahwa Philippe sedang menyiapkan aturan-aturan. Hari ini untuk dinikmati. Tentu saja Philippe tidak menginginkan yang lain dari dirinya. Jadi mengapa dia harus khawatir. “Oke.” Kata Ella dan Philippe meremas tangannya.
Beberapa menit kemudia mereka berdua sudah diatas es. Ella belum pernah bermain ice skating, jadi dia goyah sampai Philippe meluncurkan lengannya dipinggang Ella. Ella merasakan kehangatannya yang kuat dan dukungan dari lengan Philippe yang panjang membuat meluncur menjadi mudah.
“Anda meluncur seperti telah melakukan ini selamanya.” Kata Ella. Philippe menyeringai.
“Ingatlah, bahwa aku dibesarkan dirumah pegunungan.”
“ya –“
“sebuah danau.”
“Ah.”
“Kau sendiri tidak buruk.” Kata Philippe, dan sebelum Ella menjawab, dia berputar dan menjerit kecil.
“Philippe –“
“Aku pikir ini mungkin ini pertama kalinya kau memanggil namaku.”
“Saya tidak berpikir.” Ella mengakuinya.
Philippe tertawa lembut, menarik Ella kepadanya sehingga Ella harus memiringkan kembali kepalanya untuk menatap wajahnya yang tersenyum. “Sekarang kau mempunyai ide.”
“Apakah benar-benar begitu buruk?” Tanya Ella, dan sesak mendengar suaranya sendiri.
“kadang-kadang.”
“Seperti kapan?” Bibir Ella terbuka saat ia menunggu jawabannya. Philippe mengulurkan tangan dan menyentuh dagunya dengan jarinya.
“seperti sekarang.” Kata Philippe, dan mencium Ella.

Kamis, 21 Februari 2013

The Playboy Prince Chapter 9


Chapter Nine
Ella sangat menikmati waktunya. Setelah mengunjungi perpustakaan, Philippe membawanya kesebuah restoran yang elegan dan sangat eksklusif di Madison Avenue.
Ella tidak menolak ketika Philippe menuangkan anggur mereka dari botol yang sangat mahal, meskipun hari baru beranjak lewat tengah hari. Ella berdebar hatinya ketika Philippe bersandar dikursinya, matanya berkilat dan berkata. “ Jadi ceritakan tentang dirimu, Ella.”
Ella meneguk anggurnya, “Tidak banyak yang bisa diceritakan.”
“Selalu ada sesuatu.”
“Apa yang ingin ada ketahui?” Tanya Ella, dengan nada provokatif dalam suaranya. Dari tatapan Philippe, Ella tahu dia mendengarnya juga.
“Dimana kau dibesarkan?”
“Connecticut.”
“Berapa umurmu?”
“Dua puluh delapan.”
“Pacar?”
Ella ragu-ragu sebentar, hatinya mulai berdebar kencang. “Tidak.”
Philippe tersenyum samar-samar dan meneguk anggurnya. “Mengapa kau hanya menyelesaikan satu tahun di universitas?”
Ella hampir tersedak, terkejut dengan perubahan yang tiba-tiba dalam pertanyannya. “Ibu saya jatuh sakit.” Katanya setelah beberapa saat. “Dan ayah sudah tidak ada, jadi saya meninggalkan sekolah untuk merawatnya.”
Ella melihat bayangan dimata Philippe, dan Ella tahu dia bersimpati. “Maafkan aku.” Kata Philippe. Ella hanya mengangguk, tenggorokannya tercekat.
“Bagaimana dengan anda, Pangeran Philippe? Kenapa anda tidak pernah ingin menjadi raja?”
Philippe mengangkat bahu. “Aku kira karena aku tidak pernah terpikir aku akan menjadi raja.”
“Apa yang akan anda lakukan sebagai gantinya?”
“Mengajar sejarah di Sorbonne.” Untuk sesaat Ella pikir dia sedang bercanda, mulutnya tersenyum jahil dan dia berkata, “Surprise lagi.”
“Anda seorang akademisi?” Tanya Ella
Philippe mengangkat bahu. “Tidak lagi.”
“Apakah anda menyesal?”
Philippe tidak menjawab selama beberapa saat, hanya menenggak anggur di dalam gelasnya. “Aku tidak melihat tujuan untuk menyesal.” Katanya akhirnya “Apalah hidup itu.”
“Ya, tapi –“
“Ayo.” Philippe melemparkan serbet keatas meja sambil tersenyum. “Apakah kau sudah selesai, karena aku ingin bermain skating di Rockefeller Plaza.”
“Skating-“
“Apakah kau bisa bermain skate?”
“Sedikit –“
Philippe mengulurkan tangannya. “kalau begitu, mari kita pergi. Saatnya babak kedua dalam kencan kita.”
Ella merasa tersentak, “Ini bukan kencan!”
Senyum Philippe berubah menjadi seringai tajam ketika ia menariknya dari meja. “Oh ya.”

Rabu, 20 Februari 2013

The Prince Playboy Chapter 8


Chapter Eight
Philippe melihat suluran rambut pirang Ella dari sanggulnya saat ia membungkuk mengambil salah satu manuskrip di perpustakaan Morgan, dan Philippe merasa seberkas api keinginan menembus tubuhnya. Ella begitu cantik, begitu menyegarkan, jujur dan terbuka, abu hijau matanya tak menyembunyikan apapun. Ella juga sangat curiga terhadap reputasi playboynya, tapi Philippe pikir Ella mulai mencair, meski sedikit.
Satu hari, Philippe berkata pada dirinya sendiri. Satu hari untuk menikmati dirinya sendiri, untuk menjadi pria biasa. Bukan playboy sembrono yang menjual dan bertanggung jawab untuk membawa pariwisata ke Negara.
Ella mendongak, matanya melebar.
“Apa yang salah?”
“Salah? Tidak ada yang salah.”
“Anda mendesah.”
“Aku?” Philippe kagum bagaimana Ella menyesuaikan diri padanya, dan dia kepadanya, sejak awal. “Aku hanya melihat ini, komposisi Mozart.”
“Menakjubkan bukan?” Ella bergerak mendekati Philippe di kaca display lain. “Saya suka tempat ini.”
“Kau?” Philippe tidak terkejut, hanya senang.
Ella mengangguk. “Saya suka merasakan seperti saya menjadi bagian dari sejarah yang begitu banyak.”
“Aku tahu apa maksudmu.” Itu menjelaskan bagaimana perasaannya tentang negaranya sendiri, bagian dari alasan dia tidak memprotes keputusan kakaknya. Ketika kau menyadari bahwa kau adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari dirimu, itu membuat segala kepentingan pribadi tampak kecil.
“Dan ruangan ini…” Ella melirik ke langit-langit, gantungan berkubah. “Seolah-olah aku melangkah kedunia lain. Tapi saya kira anda terbiasa dengan tempat-tempat seperti ini.”
“Aku kira itu mungkin, jika aku dibesarkan di istana.”
Ella menaikkan alisnya. “Kau?”
“Aku dibesarkan di rumah kami di pegunungan, rumah yang sangat bagus, tapi tidak megah. Istana Montvidant digunakan untuk upacara Negara dan perayaan lain.”
Ella menatapnya, “Dan dimana anda tinggal sekarang?” tanyanya saat mereka bergerak kearah lain etalase.
“Aku memiliki sebuah flat di ibukota Montvidant, Amarne.”
“Tapi ketika anda menjadi raja, anda akan tinggal di istana itu kan?”
Philippe mengangkat bahu. “Ibuku menghabiskan sebagian besar waktunya dirumah kami, tapi dia akan berada di istana ketika dia datang ke Amarne untuk urusan Negara. Jadi ya, aku akan tinggal di istana pada beberapa kesempatan.”
“Apakah kau melihat masa depan untuk itu?” Tanya Ella, dan sebelum Philippe mengecam dirinya, Philippe menjawab jujur.
“Tidak benar-benar.”
Ella memiringkan kepalanya, matanya gelap dengan simpati. “Mengapa tidak?”
“Karena aku tidak pernah ingin menjadi raja, tapi aku menerima tugasku.” Philippe tersenyum, tahu ia mengatakan terlalu banyak dan meringankan saat ini. “Apakah sudah cukup? Karena aku ingin mengajakmu makan siang.”
“Um..tentu.” kata Ella, suaranya agak terengah-engah, dan Philippe meraih tangannya, menggenggam jemarinya. Philippe merasakan tarikan jauh didalam dirinya, dikulit lembutnya dan dia melihat Ella menatapnya terkejut. Pertanyaannya, mereka akan melakukan apa untuk hal itu?
Philippe tahu apa yang dimaksudkan untuk menjadi jawaban.