Kamis, 21 Februari 2013

The Playboy Prince Chapter 9


Chapter Nine
Ella sangat menikmati waktunya. Setelah mengunjungi perpustakaan, Philippe membawanya kesebuah restoran yang elegan dan sangat eksklusif di Madison Avenue.
Ella tidak menolak ketika Philippe menuangkan anggur mereka dari botol yang sangat mahal, meskipun hari baru beranjak lewat tengah hari. Ella berdebar hatinya ketika Philippe bersandar dikursinya, matanya berkilat dan berkata. “ Jadi ceritakan tentang dirimu, Ella.”
Ella meneguk anggurnya, “Tidak banyak yang bisa diceritakan.”
“Selalu ada sesuatu.”
“Apa yang ingin ada ketahui?” Tanya Ella, dengan nada provokatif dalam suaranya. Dari tatapan Philippe, Ella tahu dia mendengarnya juga.
“Dimana kau dibesarkan?”
“Connecticut.”
“Berapa umurmu?”
“Dua puluh delapan.”
“Pacar?”
Ella ragu-ragu sebentar, hatinya mulai berdebar kencang. “Tidak.”
Philippe tersenyum samar-samar dan meneguk anggurnya. “Mengapa kau hanya menyelesaikan satu tahun di universitas?”
Ella hampir tersedak, terkejut dengan perubahan yang tiba-tiba dalam pertanyannya. “Ibu saya jatuh sakit.” Katanya setelah beberapa saat. “Dan ayah sudah tidak ada, jadi saya meninggalkan sekolah untuk merawatnya.”
Ella melihat bayangan dimata Philippe, dan Ella tahu dia bersimpati. “Maafkan aku.” Kata Philippe. Ella hanya mengangguk, tenggorokannya tercekat.
“Bagaimana dengan anda, Pangeran Philippe? Kenapa anda tidak pernah ingin menjadi raja?”
Philippe mengangkat bahu. “Aku kira karena aku tidak pernah terpikir aku akan menjadi raja.”
“Apa yang akan anda lakukan sebagai gantinya?”
“Mengajar sejarah di Sorbonne.” Untuk sesaat Ella pikir dia sedang bercanda, mulutnya tersenyum jahil dan dia berkata, “Surprise lagi.”
“Anda seorang akademisi?” Tanya Ella
Philippe mengangkat bahu. “Tidak lagi.”
“Apakah anda menyesal?”
Philippe tidak menjawab selama beberapa saat, hanya menenggak anggur di dalam gelasnya. “Aku tidak melihat tujuan untuk menyesal.” Katanya akhirnya “Apalah hidup itu.”
“Ya, tapi –“
“Ayo.” Philippe melemparkan serbet keatas meja sambil tersenyum. “Apakah kau sudah selesai, karena aku ingin bermain skating di Rockefeller Plaza.”
“Skating-“
“Apakah kau bisa bermain skate?”
“Sedikit –“
Philippe mengulurkan tangannya. “kalau begitu, mari kita pergi. Saatnya babak kedua dalam kencan kita.”
Ella merasa tersentak, “Ini bukan kencan!”
Senyum Philippe berubah menjadi seringai tajam ketika ia menariknya dari meja. “Oh ya.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar