Chapter Nine
Ella sangat menikmati waktunya.
Setelah mengunjungi perpustakaan, Philippe membawanya kesebuah restoran yang
elegan dan sangat eksklusif di Madison Avenue.
Ella tidak menolak ketika
Philippe menuangkan anggur mereka dari botol yang sangat mahal, meskipun hari
baru beranjak lewat tengah hari. Ella berdebar hatinya ketika Philippe
bersandar dikursinya, matanya berkilat dan berkata. “ Jadi ceritakan tentang
dirimu, Ella.”
Ella meneguk anggurnya, “Tidak
banyak yang bisa diceritakan.”
“Selalu ada sesuatu.”
“Apa yang ingin ada ketahui?”
Tanya Ella, dengan nada provokatif dalam suaranya. Dari tatapan Philippe, Ella
tahu dia mendengarnya juga.
“Dimana kau dibesarkan?”
“Connecticut.”
“Berapa umurmu?”
“Dua puluh delapan.”
“Pacar?”
Ella ragu-ragu sebentar, hatinya
mulai berdebar kencang. “Tidak.”
Philippe tersenyum samar-samar
dan meneguk anggurnya. “Mengapa kau hanya menyelesaikan satu tahun di
universitas?”
Ella hampir tersedak, terkejut
dengan perubahan yang tiba-tiba dalam pertanyannya. “Ibu saya jatuh sakit.”
Katanya setelah beberapa saat. “Dan ayah sudah tidak ada, jadi saya meninggalkan sekolah
untuk merawatnya.”
Ella melihat bayangan dimata
Philippe, dan Ella tahu dia bersimpati. “Maafkan aku.” Kata Philippe. Ella
hanya mengangguk, tenggorokannya tercekat.
“Bagaimana dengan anda, Pangeran
Philippe? Kenapa anda tidak pernah ingin menjadi raja?”
Philippe mengangkat bahu. “Aku kira
karena aku tidak pernah terpikir aku akan menjadi raja.”
“Apa yang akan anda lakukan
sebagai gantinya?”
“Mengajar sejarah di Sorbonne.”
Untuk sesaat Ella pikir dia sedang bercanda, mulutnya tersenyum jahil dan dia berkata,
“Surprise lagi.”
“Anda seorang akademisi?” Tanya
Ella
Philippe mengangkat bahu. “Tidak
lagi.”
“Apakah anda menyesal?”
Philippe tidak menjawab selama
beberapa saat, hanya menenggak anggur di dalam gelasnya. “Aku tidak melihat
tujuan untuk menyesal.” Katanya akhirnya “Apalah hidup itu.”
“Ya, tapi –“
“Ayo.” Philippe melemparkan
serbet keatas meja sambil tersenyum. “Apakah kau sudah selesai, karena aku
ingin bermain skating di Rockefeller Plaza.”
“Skating-“
“Apakah kau bisa bermain skate?”
“Sedikit –“
Philippe mengulurkan tangannya.
“kalau begitu, mari kita pergi. Saatnya babak kedua dalam kencan kita.”
Ella merasa tersentak, “Ini bukan
kencan!”
Senyum
Philippe berubah menjadi seringai tajam ketika ia menariknya dari meja. “Oh
ya.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar