Chapter Five
Ella menggodanya dengan bahaya,
Ella mengetahuinya. Dengan Bencana. Itulah mengapa Ella bertanya mengapa
pertanyaan Philippe seperti provokatif? Ella tidak ingin mengenal sang pangeran
lebih pribadi. Dia hanya ingin melakukan pekerjaannya dan melakukannya dengan
baik, seperti yang selalu dilakukannya. Sesuatu yang memberinya kepuasan dari
tujuan dan kebahagiaan, dan hal terakhir yang dia butuhkan adalah Pangeran
Philippe yang mengganggu.
Masalahnya adalah, pria itu terus
membingungkan dirinya. Disatu sisi, dia mengakui segala yang dikatakan tabloid
tentang dirinya adalah benar. Namun disisi lain…dia tidak tampak seperti seorang
playboy. Ataukah Ella hanya bersikap naïf, karena sebagian dalam dirinya tidak
ingin Philippe menjadi playboy.
“Impianku…well.” Kata Philippe,
memutar gelasnya. “Tak pernah menjadi keinginanku untuk menjadi pewaris tahta
Montvidant.”
“Tapi, harusnya anda telah
mengetahuinya-”
“Tidak, Kakak perempuanku,
Christina, menjadi ratu. Di Montvidant, anak pertama, tidak peduli laki-laki
atau perempuan, adalah sang pewaris.”
“Sangat maju pemikiran Negara
anda.”
Philippe mencodongkan kepalanya.
“Tapi kakakku turun tahta tiga tahun yang lalu untuk mengejar karir dalam bidang
fisika.”
“Fisika?” Ella tidak ingat pernah
membaca tentang hal itu di tabloid. Bahkan, sekarang dia berpikir, dia tidak
ingat apa-apa tentang Montvidant sebelum Pangeran Philippe tampil, difoto
diseluruh Eropa dengan seorang wanita cantik di lengannya.
“Dia pertama kali mengambil
Fisika di Cambridge, dia ingin mengejar penelitiannya, dengan menurunnya
kesehatan ibu kami, tugas kerajaan datang. Jadi dia turun tahta, membuatku
menjadi pewaris.”
“Dan bagaimana perasaan anda
tentang hal itu?” Tanya Ella.
Philippe mengangkat bahu.”Aku
menyetujuinya.” Yang mengisyaratkan untuk tidak mengatakan lebih banyak lagi.
Dia tersenyum, membungkuk kedepan “Sekarang, pertanyaan yang lebih penting.
Maukah kau pergi ke Morgan Library bersamaku besok, Ella?”
Ella mencoba untuk mengabaikan
kehangatan dalam suara Philippe saat menyebut namanya dan fakta bahwa pergi ke
perpustakaan dengan Philippe terlalu menggoda. "Saya yakin Mr. Bryant ingin
bertemu dengan anda.”
“Dan aku bersamanya, Tapi aku
juga ingin melihat-lihat…bersamamu.”
Hati Ella serasa terjun ke
jari-jari kakinya. Tatapan biru-abu Philippe sangat intens pada dirinya, dan
Ella tidak bisa berpaling. “Kenapa bersama saya?” Tanya Ella setelah beberapa
saat, suaranya lebih terdengar seperti bisikan.
“Jawaban yang mudah, bahwa kau
satu-satunya orang yang kukenal dikota ini.” Jawab Philippe, masih menatap
Ella. “Tapi jawaban yang sesungguhnya aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu
denganmu.”
Ella tidak menanggapi. Hatinya
serasa dipalu dan tenggorokannya mongering dan dia tidak bisa mengalihkan dari
tatapan sang pangeran yang mempesona.
“Dan
bagaimana denganmu, Ella?” Philippe bertanya dengan suara rendah, aksennya
samar tapi terdengar. “Apakah kau ingin menghabiskan lebih banyak waktu
denganku?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar