Minggu, 17 Februari 2013

The Playboy Prince Chapter 5


Chapter Five
Ella menggodanya dengan bahaya, Ella mengetahuinya. Dengan Bencana. Itulah mengapa Ella bertanya mengapa pertanyaan Philippe seperti provokatif? Ella tidak ingin mengenal sang pangeran lebih pribadi. Dia hanya ingin melakukan pekerjaannya dan melakukannya dengan baik, seperti yang selalu dilakukannya. Sesuatu yang memberinya kepuasan dari tujuan dan kebahagiaan, dan hal terakhir yang dia butuhkan adalah Pangeran Philippe yang mengganggu.
Masalahnya adalah, pria itu terus membingungkan dirinya. Disatu sisi, dia mengakui segala yang dikatakan tabloid tentang dirinya adalah benar. Namun disisi lain…dia tidak tampak seperti seorang playboy. Ataukah Ella hanya bersikap naïf, karena sebagian dalam dirinya tidak ingin Philippe menjadi playboy.
“Impianku…well.” Kata Philippe, memutar gelasnya. “Tak pernah menjadi keinginanku untuk menjadi pewaris tahta Montvidant.”
“Tapi, harusnya anda telah mengetahuinya-”
“Tidak, Kakak perempuanku, Christina, menjadi ratu. Di Montvidant, anak pertama, tidak peduli laki-laki atau perempuan, adalah sang pewaris.”
“Sangat maju pemikiran Negara anda.”
Philippe mencodongkan kepalanya. “Tapi kakakku turun tahta tiga tahun yang lalu untuk mengejar karir dalam bidang fisika.”
“Fisika?” Ella tidak ingat pernah membaca tentang hal itu di tabloid. Bahkan, sekarang dia berpikir, dia tidak ingat apa-apa tentang Montvidant sebelum Pangeran Philippe tampil, difoto diseluruh Eropa dengan seorang wanita cantik di lengannya.
“Dia pertama kali mengambil Fisika di Cambridge, dia ingin mengejar penelitiannya, dengan menurunnya kesehatan ibu kami, tugas kerajaan datang. Jadi dia turun tahta, membuatku menjadi pewaris.”
“Dan bagaimana perasaan anda tentang hal itu?” Tanya Ella.
Philippe mengangkat bahu.”Aku menyetujuinya.” Yang mengisyaratkan untuk tidak mengatakan lebih banyak lagi. Dia tersenyum, membungkuk kedepan “Sekarang, pertanyaan yang lebih penting. Maukah kau pergi ke Morgan Library bersamaku besok, Ella?”
Ella mencoba untuk mengabaikan kehangatan dalam suara Philippe saat menyebut namanya dan fakta bahwa pergi ke perpustakaan dengan Philippe terlalu menggoda. "Saya yakin Mr. Bryant ingin bertemu dengan anda.”
“Dan aku bersamanya, Tapi aku juga ingin melihat-lihat…bersamamu.”
Hati Ella serasa terjun ke jari-jari kakinya. Tatapan biru-abu Philippe sangat intens pada dirinya, dan Ella tidak bisa berpaling. “Kenapa bersama saya?” Tanya Ella setelah beberapa saat, suaranya lebih terdengar seperti bisikan.
“Jawaban yang mudah, bahwa kau satu-satunya orang yang kukenal dikota ini.” Jawab Philippe, masih menatap Ella. “Tapi jawaban yang sesungguhnya aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu denganmu.”
Ella tidak menanggapi. Hatinya serasa dipalu dan tenggorokannya mongering dan dia tidak bisa mengalihkan dari tatapan sang pangeran yang mempesona.
“Dan bagaimana denganmu, Ella?” Philippe bertanya dengan suara rendah, aksennya samar tapi terdengar. “Apakah kau ingin menghabiskan lebih banyak waktu denganku?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar